GREEN GRAY Red

Kategori Artikel

Wakaf Produktif

OPTIMALISASI PENGELOLAAN WAKAF PRODUKTIF

Pendahuluan.

Wakaf adalah instrumen ekonomi Islam yang unik yang mendasarkan fungsinya pada unsur kebajikan (birr), kebaikan (ihsan) dan persaudaraan (ukhuwah). Ciri utama wakaf yang sangat membedakan adalah ketika wakaf ditunaikan terjadi pergeseran kepemilikan pribadi menuju kepemilikan Allah SWT yang diharapkan abadi, memberikan manfaat secara berkelanjutan. Melalui wakaf diharapkan akan terjadi proses distribusi manfaat bagi masyarakat secara lebih luas, dari manfaat pribadi menuju manfaat masyarakat (manfa’at ‘ammah).

Nampaknya mayoritas umat Islam Indonesia mempersepsikan bahwa wakaf keagamaan lebih penting daripada wakaf untuk tujuan pemberdayaan sosial. Sementara untuk tujuan pemberdayaan, seperti pendidikan, pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat belum dipandang penting.

Wakaf telah diperkenalkan oleh Rasulullah SAW di Madinahpada tahun kedua Hijriyah dengan mewakafkan tanahnya untukmesjid. Hal ini didasarkan iriwayat Umar bin Syabah dari ‘Amr binSa’ad bin Mu’ad. Pada tahun ketiga Hijriyah Rasulullah mewakafkan tujuh kebun kurma di Madinah; diantaranya kebon A’raf, Shafiyah, Dalal, Barqah dan kebun lainnya. Tradisi wakaf kemudian dicontoholeh pada sahabat. Abu Thalhah mewakafkan kebun kesayangannya“Bairaha”.

Abu Bakar mewakafkan tanah di Mekkah bagi anakketurunannya yang datang ke Mekkah. Mu’ad bin Jabal mewakafkanrumahnya yang populer dengan “Dar Al-Anshar”.Dari fakta-fakta di atas wakaf diarahkan untuk tujuankeberlangsungan manfaat yang produktif. Tanah untuk mesjid,manfaat kebun kurma untuk kebutuhan masyarakat, rumah untukkegiatan pendidikan umat dan lain-lain. Karena itulah dalamperspektif modern, wakaf dianggap sebagai filantropi Islam.

Filantropi adalah tindakan sukarela untuk kepentingan umum yaituterwujudnya keadilan sosial melalui model-model tertentu gunamenyelesaikan ketidakadilan struktur sosial, mengobati akar penyebabketidakadilan dan memberikan advokasi. Dibandingkan dengan  filantropi Islam lainnya. Dalam sejarah Islam era Klasik Daulah Abbasyiah dan Turki Usmani, wakaf secara nyata telah memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan sektor pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan dan kebudayaan. Sayangnya, model pemberdayaan wakaf seperti itupada masa kini belum mendapat perhatian yang serius. Di masyarakat kita, pada umumnya wakaf hanya diperuntukkan bagi lembaga lembaga keagamaan seperti pembangunan masjid, madrasah dan sebagainya.

1

2

Pengertian  wakaf .

Wakaf berasal dari bahasa Arab; al-waqfyang berarti al-habs yaitu menahan. Wakaf adalah sejenis pemberianyang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan menahan kepemilikan  asal (tahbis al-asl) dan menjadikan manfaatnya berlaku umum. Yangdimaksud tahbis al-asl adalah menahan barang yang diwakafkan agartidak diwariskan, dijual, dihibahkan, digadaikan, disewakan,dipinjamkan dan lain-lain. Menurut jumhur ulama, wakaf adalah : “Menahan suatu harta yang dapat dimanfaatkan, baik secara abadi atau sementara, untuk diambil manfaatnya secara berulang-ulang dengan mengekalkan bendanya demi kepentingan umum maupun khusus untuk tujuan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala”.

Hukum wakaf menurut jumhur ulama adalah sunat. Dalilnyaadalah firman Allah dalam surat Ali Imran,3: 92;

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yangsempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamucintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allahmengetahuinya.

Adapun hadits yang dianggap sebagai sandaran syariat wakafadalah hadits Umar yang artinya sebagai berikut:

”Dari Ibn Umar katanya: Umar mendapat (harta rampasan perangberupa) tanah di Khaibar. Dia mendatangi Nabi saw. untuk memohon petunjuk mengenainya seraya berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendapat tanah di Khaibar yang belum pernah aku mendapatkan harta paling berharga bagiku darinya, maka apakah perintahmu mengenainya?

Jawab baginda: "Jika kamu menghendaki, kamu tahan asalnya dan kamu sedekahkan (manfaat)nya". Kata IbnUmar: Maka Umar segera menyedekahkan (manfaat)nya, denganketentuan asalnya tidak dijual belikan, tidak diwariskan dan tidakdihibahkan. Ibn Umar melanjutkan: Umar menyedekahkan (manfaat)nya untuk kaum fakir, kerabat, budak-budak, orang-orang yang di jalan Allah, Ibnu Sabil dan tamu. Dan tidak ada dosa bagi  orang yang mengelolanya untuk mengambil darinya sekedar yangma'ruf atau memberi makan orang yang berharta dengannya?" (HR.Muslim).

 

Menurut ulama fiqih wakaf harus memenuhi  empat rukun wakaf:

pertama, wakif, yaitu orang yang mewakafkanharta bendanya,

kedua, mauquf yaitu harta yang diwakafkan,

ketiga,mauquf ’alaih yaitu sasaran atau tujuan harta yang diwakafkan. Dankeempat, ikrar wakaf. Di antara dimensi-dimensi yang harus  terpenuhi agar sasaran wakaf tercapai adalah peran penting posisikapabilitas, integritas dan akuntabilitas nadzir serta perlunyapemahaman baru dan budaya masyarakat tentang wakaf, harta wakafdan pendayagunaannya.

Di antara penyebab tidak optimalnya wakaf danpengelolaannya adalah :

Pertama, sempitnya pola pemahaman  masyarakat terhadap harta wakaf yaitu harta yang tidak bergerak danhanya untuk aspek peribadatan semata.

Kedua, pada umumnyawakif menyerahkan harta benda yang diwakafkan kepada orang yangdianggap panutan dalam lingkup masyarakat tertentu, sementararealitas panutan tidak selalu otomatis dapat berfungsi optimal sebagainadhir.

Ketiga, kurangnya kesadaran budaya masyarakatuntuk melegalkan harta wakaf semisal ke BPN dan belumtersosialisasikannya perangkat hukum terkait wakaf.Pada konteksitulah mengapa diperlukan rekontruksi pemahaman tentang wakaf danpengembangannya.

Atas dasar hal-hal itulah, dalam Undang-undang Wakaf No 41tahun 2004 padabagian keempat pasal 7 ditegaskan bahwa wakif meliputiperseorangan, organisasi atau badan hukum. Demikian pula pada pasal9 bagian kelima ditegaskan nadzir meliputi perseorangan, organisasiatau badan hukum.

Tugas nadzirdi atur dalam pasal 11 yaitu melakukan pengadminisrasian hartabenda wakaf, mengelola dan mengembangkan harta benda wakafsesuai dengan tujuan fungsi, mengawasi dan melindungi harta bendawakaf dan peruntukan wakaf dan melaporkan pelaksanaan tugaskepada Badan Wakaf Indonesia.

Dalam UU No 41 pasal 16 ayat 2, ditegaskan harta wakafterdiri atas benda tidak bergerak dan benda bergerak. Harta tidakbergerak meliputi hak atas tanah, bangunan, tanaman, hak milik atassatuan rumah susun, dan lain-lain. Sedangkan benda bergerak adalah  benda yang tidak bisa habis karena dikonsumsi meliputi; uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak atas kekayaan intelektual, hak sewa dan benda bergerak lain sesuai ketentuan syari’ah.(ayat 3). Adapun pendayagunaan harta wakaf bergerak berupa uang dapatdilakukan melalui lembaga keuangan syari’ah yang ditunjuk olehMenteri.(psl 28). Fungsi harta benda wakaf disamping untuk saranaibadah, pendidikan, kesehatan, jugauntuk kemajuan dan peningkatan ekonomi umat dan atau kemajuankesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syari’ahdan perundangan-undangan (psl 22).

 

Wakaf Produktif

Asal tujuan disyariatkannya wakaf adalah taqarrub ilallahguna mencapai keridhaan-Nya. Ini termasuk kategori ibadahkemasyarakatan yang sangat penting sebagai modal dansarana dalam mencapai kesejahteraan umat. Agar wakaf dapat berkontribusi efektif terhadap kesejahteraan umat, maka harus memenuhi empat faktor meliputi, status kepastian hukum, ikrar wakaf yang benar dan tepat, pengelolaan wakaf yang efektif dan orientasi maksud wakaf untuk amal ibadah kemasyarakatan.

4

Penggunaan tanah wakaf sebagian besar untuk tempat ibadah di Indonesia 75 %. Untuk pendidikan, kesehatan, sosial ekonomi masih sangat sedikit. Demikian pula pengelolaan wakaf pada umumnya belum efektif karena pada umumnya dikelola oleh nadzir yang tidak jelas statusnya, tugas dan kewajibannya serta banyak dirangkap oleh takmir mesjid.

Dari total assetwakaf yang diperkirakan sebesar 99%  berupa harta tidak bergerak yaitu tanahdi seluruh Indonesia. Dari realitas tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa padaumumnya pendayagunaan asset-asset wakaf belum produktif. Ataspermasalahan tersebut, maka dicari berbagai formulasi gunamelakukan pengembangan apa yang disebut wakaf produktif.

DalamUU no 41, pasal 22, ditegaskan fungsi harta benda wakaf disampinguntuk sararan ibadah, pendidikan, kesehatan, bantuan fakir miskin,bea siswa, juga untuk kemajuan dan peningkatan ekonomi umat danatau kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangandengan syari’ah dan perundangan-undangan. Pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf harus dilakukan secara produktif (pasal 43 ayat 1,2), bahkan apabila diperlukan penjamin untuk menjaga resiko, dapat menggunakan lembaga penjamin syari’ah (ayat 3).

Wakaf produktif pada dasarnya merupakan implementasitujuan wakaf yaitu kemaslahatan melalui model-model usaha ekonomiyang produktif, sehingga wakaf dapat berdaya gunasecara optimal dan berkesinambungan. Untuk merealisasikan wakafproduktif maka paling tidak harus mempertimbangkan empat azas,yaitu asas keabadian manfaat, asas pertanggung-jawaban, asasprofesionalitas managemen, dan asas keadilan sosial.

Dengan demikian, wakaf produktif dapat memanfaatan tanahtanah  wakaf untuk kegiatan-kegiatan ekonomi bernilai tinggi. Ataudilakukan dengan cara wakaf tunai kepada lembaga ekonomiproduktif yang amanah untuk kemudian diinvestasikan untukmenciptakan lapangan kerja. Untuk kemajuan pengembangan wakaf,UU mengamanahkan pembentukan badan independen yaitu BadanWakaf Indonesia yang bertugas, membina nadzir dalam pengelolaandan pengembangan harta benda wakaf, mengelola danmengembangkan harta benda wakaf yang untuk pelaksanaannya dapat bekerjasama dengan instansi pemerintah, badan internasional,organisasimasyarakat, para ahli atau profesional dan lain-lain (pasal 49 ayat 1).

 

Pemberdayaan wakaf di berbagai negaratampak bahwa wakaf telah menjadi instrumen sosial ekonomi yangtelah memberikan kontribusi dalam pembangunan pendidikan, sosialekonomi dan kebudayaan.

 

 

5

Optimalisasi Pengelolaan Wakaf Produktif

Ada beberapa strategi penting untuk optimalisasi wakaf dan wakaf tunai dalam rangka untuk menopang pemberdayaan dan kesejahteraan ummat : Antara lain, optimalisasi edukasi dan sosialisasi wakaf uang. Seluruh komponen umat perlu untuk terus mendakwahkan konsep, hikmah dan manfaat wakaf pada seluruh lapisan masyarakat. Pendekatan komparatif dapat dilakukan baik pada level pemikiran hukum maupun pada level praktik. Fikih wakaf yang progresif dapat diperkenalkan kepada masyarakat melalui pendekatan lintas mazhab. Pemikiran hukum wakaf Mazhab Hanafi dan Maliki, misalnya, dapat dijadikan acuan komparatif bagi masyarakat kita yang mayoritas bermazhab Syafi'i.

Selain itu, cerita sukses wakaf masa lampau dalam sejarah Islam serta studi komparatif dengan pengalaman di negara-negara lain masa kini dapat menjadi informasi penting dalam sosialisasi wakaf roduktif dan bahkan diharapkan memberikan kontribusi yang signifikan.

        Atas tuntutan pengembangan ekonomi umat tersebut, makatujuan utama peruntukan wakaf adalah terwujudnyakemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat secara kontinyu. Untuk itu makapemberdayaan wakaf produktif untuk sumber modal usaha tidaklahmelawan hukum syariat. Pengelolaan wakaf produktif dengan diinvestasikanpada model bisnis merupakan alternatif  positif guna pemberdayaan wakaf produktif. Selain itu kerjasama antara pengelola wakaf dengan lembaga keuangan untukpengembangan aset wakaf merupakan alternatif yang baik gunamenekan resiko bisnis. Hasil-hasil dari model pengembangan itulah  yang kemudian dijadikan sebagai sumber modal usaha bagipengembangan perekonomian masyarakat.

        Pemberdayaan model wakaf produktif pada dasarnyamerupakan keharusan guna mewujudkan kesejahteraan umat, sebagaibagian dari kemaslahatan yang diusung oleh tujuan wakaf. Dalam konteks itulah, mengapa pola kemitraan antarapengelola wakaf (badan nadhir) dengan lembaga-lembaga bisnis dankeuangan seperti perbankan syariah stratetis untuk segera dilakukan.Dalam UU no 41 lembaga-lembaga keuangan syariah dapat menjadinadhir wakaf. Dengan demikian, pengembangan wakaf produktif baik melalui investasi bisnis yang minus resiko dan pengembangan wakaf melalui kerjasama kemitraan dengan lembaga-lembaga keuangan syariah merupakan pilihan strategis guna mewujudkan wakaf produktif sebagai modal usaha-usaha ekonomi umat.  Wallahu a’lam

Bantul 18  Juni 2013

 

                                                                                                          H.Damanhuri

Login Form

Waktu Shalat

Islamic Tools

Visitor Online

Ada 5 tamu dan 0 member online

Visitor Counter

000091651
Hari ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Kunjungan
105
67
281
90502
1888
3950
91651

IP Anda: 54.226.41.91
16-01-2018 @ 11:48:29